Berita MotoGP
Paolo Simoncelli : “1 Menit Hening Sebelum Pembalap Memulai Balapan, Kuranglah Tepat.”
Paolo Simoncelli ayahnda dari Marco Simoncelli pernah berada disituasi yang sama yang menimpa pembalap muda Jason Dupasquier. Peristiwa yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya seolah kembali lagi diingatannya.
Dengan perasaan yang haru dikutip dari Sportal.it Paolo Simoncelli mulai menceritakan perasaannya “Malam antara Sabtu dan Minggu, saya benar-benar sakit, memikirkan peristiwa itu sepanjang malam. Saya mendengar dari seseorang bahwa Jason Dupasquier mengalami trauma otak, dan jika pun Jason dapat kuat melewatinya, maka anak muda ini akan duduk dikursi roda. Mulanya saya berpikir (dibalik semua rasa kesedihan yaang dideritanya), bahwa akan lebih baik apa yang terjadi dengan anak saya Marco Simoncelli, maksudnya adalah Marco langsung menghembuskan nafas terakhir tanpa merasakan kesakitan dan penderitaan. Tapi pikiran itu berubah seketika, ketika saya bertemu dengan teman baik saya yang sedang mendorong anaknya yang juga duduk dikursi roda karena kecelakaan Motorcross yang dialaminya. Saya melihat bahwa sang ayah masih dapat membelai kepala anaknya dan mereka masih dapat tertawa bersama dan berpelukan. Lalu saya pun berpikir kembali mungkin akan lebih baik jika Marco berakhir seperti ini juga.”
Selanjutnya Paolo juga mengatakan bahwa 1 minute hening (mengheningkan cipta) sebelum para pembalap MotoGP berada di grid adalah hal yang kurang tepat dilakukan. Paolo mengatakan “Saya tidak suka prosesi mengheningkan cipta selama satu menit apalagi sebelum balapan dimulai. Mungkin sementara orang berpikir Ini adalah sebuah penghormatan, Terima kasih. Tapi percayalah ini sangat tidak mudah dilakukan. 1 menit hening adalah cara yang sangat menyedihkan. Mereka tidak akan tahan. Ini sangat menjatuhkan mental pembalap apalagi sebelum menyalakan motor dan memulai balapan .”
Tentunya apa yang dikatakan Paolo Simoncelli adalah berdasarkan pengalaman yang tentunya sangat tidak mudah dilaluinya. Beberapa pembalap MotoGP juga merasakan hal yang sama ketika harus membalap setelah mendengat berita duka cita tersebut. Apalagi ketika para pembalap sudah berusaha berkonsentrasi dan harus mengikuti prosesi mengheningkan cipta. Semua perasaan sedih dan duka bercampur menjadi satu. Bukan karena mereka tidak mau mengikuti prosesi mengheningkan cipta tersebut tetapi ini sangat sulit untuk membuat mereka dapat berkonsentrasi.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Aleix Espargaro, mengutip dari laman instagram pribadi terverivikasinya @aleixespargaro menuliskan : “Hari ini adalah hari yang sangat sulit, Tidak dapat dibayangkan betapa sulitnya bagi kami untuk melakukan 1 menit dalam keheningan

Aleix Espargaro (sumber : IG @aleixespargaro)
(mengheningkan cipta) di grid, saat kami kehilangan seorang partner, anak laki-laki muda berusia 19 tahun dan hanya dalam 10 menit kemudian kami harus siap membalap dengan kecepatan 350 km7jam. Saya tidak bisa mengerti, bagaimana kepala kami harus dipaksa untuk mampu melakukannya, sejujurnya saya merasa sangat buruk dengan diri saya sendiri karena saya melakukannya, karena dipaksa untuk melupakan semuanya begitu cepat, meskipun banyak orang mengatakan dan mengulangi bahwa dunia balap memang seperti ini adanya … Beristirahatlah dengan tenang Jason, Dukungan saya untuk keluargamu dan juga teammu!”
